Wednesday, June 16, 2010

JANGAN BURU-BURU PILIH BEDAH CAESAR!

Saat ini terjadi kecenderungan bedah Caesar dilakukan tanpa indikasi medis, namun seringkali didasarkan faktor sosial dan pemahaman yang salah.

KEMAJUAN di bidang teknologi kedokteran khususnya dalam metode persalinan jelas membawa manfaat besar bagi keselamatan ibu dan bayi. Ditemukannya bedah caesar memang dapat mempermudah proses persalinan sehingga banyak ibu hamil yang lebih senang memilih jalan ini walaupun sebenarnya mereka bisa melahirkan secara normal.

Menurut keterangan Dr. Andon Hestiantoro SpOG(K) dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, meskipun relatif aman, menjalani persalinan dengan metode bedah caesar tentu bukannya tanpa risiko.

"Riset para ahli menyebutkan, persalinan dengan bedah Caesar terkait dengan kematian ibu 3 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal. Angka kematian langsung akibat persalinan caesar pun mencapai sekitar 5.8 per 100.000 persalinan," ungkapnya dalam talkshow 'Metode Persalinan Berpengaruh pada Pembentukan Mikrobiota Saluran Pencernaan dan Kekebalan Tubuh Buah Hati' di Jakarta.

Prevalensi persalinan caesar di rumah sakit pemerintah Indonesia, kata Dr Andon adalah sekitar 11-15% dan di rumah sakit swasta saat ini dapat mencapai 30-40%. Tingginya prevalensi ini tentu dipengaruhi banyak faktor termasuk indikasi medis yang mewajibkan sang ibu menjalani persalinan dengan bedah Caesar.

Namun begitu, kata Dr Andon, saat ini juga terjadi kecenderungan lain untuk indikasi persalinan dengan bedah Caesar. Indikasi tersebut seringkali tidak berdasarkan pertimbangan medis, namun lebih karena faktor sosial dan pemahaman yang salah tentang bedah caesar.

Faktor sosial yang mempengaruhi di antaranya adalah kecemasan suami yang berlebihan dan menganggap istrinya tidak sanggup melahirkan normal. Selain itu kehawatiran vagina istri menjadi longgar, riwayat infertilitas dan alasan memilih waktu dan tanggal kelahiran.

"Bahkan yang lebih parah, kini banyak rumah sakit swasta yang merekomendasikan ibu hamil untuk caesar dengan alasan supaya tidak merasa sakit atau supaya suami tetap lengket karena vaginanya tidak akan longgar," ungkap Dr Andon.

Supaya terhindar dari kemungkinan bedah caesar, Dr Andon menganjurkan para ibu hamil untuk memperhatikan beberapa hal seperti konsumsi makanan bergizi tinggi, menghindari kelebihan berat badan, gaya hidup aktif, olahraga serta meminta pendapat dokter lain bila harus caesar.

"Dengan berat badan ibu yang ideal, bayi dalam kandungan tidak akan terlampau besar. Olahraga yang teratur jug akan menguntungkan posisi bayi menjelang kelahiran. Sedangkan bila sudah divonis harus caesar oleh dokter, tetapi Anda merasa masih mampu melahirkan normal cobalah untuk meminta second opinion dari dokter lain," tandas Dr Andon.

Pemahaman ibu hamil yang salah soal bedah caesar :

  • Lebih nyaman melahirkan dengan bedah caesar karena tidak sakit.
  • Melahirkan caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan normal.
  • Melahirkan caesar bayi lebih pintar.
  • Khawatir untuk dilakukan vakum atau forseps pada persalinan normal.
  • Khawatir kepala bayi terjepit saat persalinan normal.

Peningkatan risiko ibu dengan bedah caesar dibandingkan persalinan normal :

  • 5 kali lebih besar untuk mengalami henti jantung
  • 3 kali lebih besar untuk dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi).
  • 3 kali lebih besar untuk mengalami infeksi masa nifas.
  • 2.3 kali lebih besar untuk mengalami komplikasi anestesi.
  • 2.2 kali lebih besar untuk mengalami sumbatan pembuluh darah.
  • 2.1 kali lebih besar untuk mengalami perdarahan banyak yang seringkali berakhir dengan pengangkatan rahim.
  • 1.5 kali lebih besar untuk lebih lama dirawat di rumah sakit.

No comments:

About this blog

Blog ini adalah kumpulan informasi ringan yang berhubungan dengan kesehatan, sejarah dan berita-berita terkini.