Sunday, October 18, 2009

CEKER DAN TELUR AYAM PENEKAN DARAH TINGGI.

Jurnal Japan Society for Bioscience Tsukuba baru-baru ini mengungkapkan temuan bahwa ceker ayam punya khasiat buat meredam darah tinggi.

Kandungan zat kolagen (chicken collagen extract) pada ceker ayam setara aktivitasnya dengan obat antihipertensi golongan ACE-inhibitor. Kolagen ceker ini bisa menurunkan kadar rennin dalam plasma, sehingga tidak mengungkit tekanan darah menjadi lebih tinggi.

Jadi pendekatan darah tinggi dengan diet kini diperkaya lagi oleh kehadiran ceker ayam. Sebelum ini yang diketahui berperan mengendalikan tekanan darah adalah mineral kalium. Itu maka pada mereka yang darah tinggi, asupan buah harus memadai. Tak cukup satu dua kali sehari, melainkan empat porsi buah dan sayur.

Selain ceker ayam, dikutip dari Journal of Agricultural and Food Chemistry, ada temuan yang diungkapkan para ahli dari Universitas Alberta, Kanada, ihwal peran telur ayam bagi pengidap darah tinggi. Telur yang dimasak ternyata berpotensi setara dengan antihipertensi ACE-inhibitor, seperti ceker ayam.

Tergantung bagaimana telur disajikan, menentukan tinggi rendahnya khasiat. Telur yang digoreng lebih tinggi potensi antihipertensinya daripada yang direbus. Campuran putih dan kuning telur lebih berpotensi ketimbang hanya putih atau kuning telurnya saja.

Karena itu, ketakutan berlebihan akan telur perlu dihapuskan. Membatasi bukan berarti sama sekali tidak. Telur adalah sumber asam amino (essential amino acid) paling lengkap.

Bila tidak mengonsumsi telur sama sekali, kebutuhan tubuh akan delapan jenis asam amino esensial tidak terpenuhi. Tubuh tidak bisa memproduksi asam amino. Kekurangan salah satu atau lebih asam amino menimbulkan sejumlah keluhan dan penyakit. Konsumsi telur dua-tiga kali seminggu bukan larangan.

Temuan lain menyebutkan, mengonsumsi kacang-kacangan juga membantu menekan tekanan darah tinggi (Journal of Clinical Nutrition) karena kacang mengandung lemak tak jenuh yang menyehatkan, selain mineral magnesium (Mg), dan kalium (K) yang tinggi, serta fiber, vitamin, dan antioksidan.

Jadi disimpulkan, pengendalian darah tinggi mungkin cukup dengan DASH (diet approach to stop hypertension) style diet, selain memanfaatkan telur ayam, ceker, serta kacang-kacangan. Sejatinya yang benar itu menu nenek moyang yang sejak dulu memilih diet serupa DASH, ceker, telur, dan kacang-kacangan.

Di Jepang, peninggalan tradisi makan yang menyehatkan itu kini masih diabadikan oleh nelayan di Okinawa.

Friday, October 16, 2009

ASI DAPAT CEGAH KENAKALAN ANAK.

Pemberian air susu ibu (ASI) tak hanya dapat mencerdaskan dan meningkatkan daya tahan tubuh anak. Pemberian ASI juga dapat mengurangi kenakalan pada anak.

Beberapa penelitian menunjukkan anak yang tidak diberi ASI lebih agresif dari anak yang diberi ASI. "Saat anak menangis untuk disusui dan ibu memberikannya, maka terjalinlah basic trust. Dari basic trust itulah anak belajar percaya pada orang lain," kata Prof dr Rulina Suradi SpA (K), IBCLC dari Perhimpunan Perinatologi Indonesia.

Selain itu, kata dia, basic trust membantu anak tumbuh sebagai individu yang percaya diri sehingga tidak agresif saat berinteraksi dengan teman sebayanya. Sebaliknya, anak yang tidak diberi ASI tidak mempunyai basic trust dan kepercayaan diri.

"Anak yang tidak mempunyai kepercayaan diri akan bersikap agresif. Setiap ada kesempatan pasti ia akan berusaha merebutnya dengan segala cara. Itu juga disebabkan karena ia tidak percaya pada orang lain," papar dia.

Selanjutnya, Rulina menuturkan, sebuah penelitian yang dilakukan pada anak-anak jalanan di Amerika menunjukkan, kebanyakan dari mereka tidak mendapat ASI. Anak-anak jalanan tersebut tumbuh menjadi anak yang nakal dan agresif.

Dikatakannya, pemberian ASI yang paling baik adalah secara ekslusif, yaitu sejak bayi lahir sampai berumur enam bulan. Setelah itu dianjurkan memberikan makanan yang sesuai sampai dua tahun. "Hanya makanan pendamping, ASI masih tetap diberikan," ujarnya.

Lantas bagaimana jika seorang ibu tidak dapat memproduksi ASI? Menurut Rulina, hal tersebut bukanlah suatu permasalahan. Saat ini banyak cara untuk menstimulasi ASI, bisa dengan obat atau berbagai cara lainnya.

Selain itu, secara teoritis tidak ada ibu yang tidak dapat mengeluarkan ASI. Dari 1.000 ibu, mungkin hanya satu yang benar-benar bermasalah. Tidak keluarnya ASI dapat disebabkan rasa kurang percaya diri pada sang ibu. "Kalau bisa hamil dan melahirkan pasti bisa menyusui, itu sudah satu paket. Semakin banyak ASI dikeluarkan, semakin banyak yang dihasilkan," urai Rulina.

Meski ASI penting, kata dia, diperlukan cara lain untuk mencegah kenakalan pada anak. Pola asuh orangtua dan lingkungan juga harus mendukung. "Diperlukan suatu sinergi, dengan begitu tumbuh kembang anak akan semakin optimal," tukasnya.

Sunday, October 11, 2009

WASPADAILAH HIPERTENSI PADA ANAK.

Orangtua harus mewaspadai hipertensi atau tekanan darah tinggi yang terjadi pada anak sesegera mungkin. Hipertensi pada anak biasanya merupakan gejala dari penyakit yang sesungguhnya diderita oleh anak.

"Hipertensi bahkan dapat menyerang bayi. Angka hipertensi pada anak-anak semakin meningkat dari 1-3 persen dari populasi anak menjadi 10 persen," ungkap dokter spesialis anak konsultan penyakit ginjal anak Rumah Sakit Telogorejo Semarang, Rochmanadji Widajat di Kota Semarang.

Rochmanadi mengatakan, pada anak, biasanya hipertensi disebabkan oleh penyakit ginjal, syaraf pusat, jantung dan pembuluh darah, serta endokrin. Namun, hipertensi juga dapat tidak diketahui penyebabnya. Kasus seperti itu disebut dengan hiper tensi primer atau hipertensi esensial.

Yang berbahaya ketika penyebab hipertensi tidak diketahui. Karena itu, orangtua harus senantiasa waspada dengan mengukur tekanan darah anaknya secara rutin.

Sebelum kejadian hipertensi tidak setinggi saat ini, orangtua biasanya sangat jarang mengukur tekanan darah anaknya. Sebab, hipertensi identik dengan orang dewasa, terutama mereka yang kelebihan berat badan, serta orangtua.

Anak-anak yang menderita hipertensi ringan, tidak dijumpai adanya penyakit lain. Namun, pada anak-anak yang dirawat di RS dijumpai beberapa penyakit sistemik yang menyertai hipertensi. Penyakit-penyakit itu antara lain penyakit ginjal akut, penyakit ginjal kronik, tumor dan infeksi berat (penyakit syaraf pusat), penyempitan pembuluh darah, serta diabetes mellitus.

Semakin muda usia anak, Rochmanadi mengatakan, semakin besar kemungkinan penyakit-penyakit sistemik itu diderita oleh anak yang mengalami hipertensi. Tetapi anak yang sudah berusia lebih tua, biasanya hipertensi yang diderita disebabk an oleh pola makan dan gaya hidup.

"Pada bayi, gejala hipertensi biasanya rewel berkepanjangan. Sedangkan pada anak besar, gejala hipertensi antara lain sakit kepala, gelisah, berdebar-debar, hingga sesak nafas," ujar Rochmanadi.

Meskipun tidak banyak, kasus hipertensi pada anak, disebutkan Rochmanadi dapat berlangsung hingga usia dewasa dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Untuk itu, orangtua perlu mencegah risiko tersebut dengan mencegah anak yang sedang bertumbuh untuk tidak kelebihan berat badan (obesitas), waspada dengan anak yang sering sakit demam (dengan atau tanpa gejala lain), waspada dengan anak yang sakit perut atau sakit pinggang berulang, sakit saat buang air kecil, serta waspada ketika mata anak terlihat sembab di pagi hari.

About this blog

Blog ini adalah kumpulan informasi ringan yang berhubungan dengan kesehatan, sejarah dan berita-berita terkini.