Monday, February 21, 2011

9 PENYEBAB KONSTIPASI.

Mengalami tinja keras, kesulitan buang air besar atau frekuensi "ke belakang" yang tidak teratur, biasanya tidak sampai tiga kali dalam seminggu, merupakan ciri-ciri konstipasi atau sembelit. Persoalan ini sebenarnya cukup umum dialami masyarakat.

Konstipasi dibagi menjadi dua jenis, yakni konstipasi primer dan sekunder. Konstipasi primer merupakan konstipasi fungsional atau tidak ditemukannya kelainan organik di dalam tubuh setelah dilakukannya pemeriksaan. Sedangkan konstipasi sekunder biasanya disebabkan penyakit lain.

Kebanyakan orang mengira kurang serat sebagai penyebab utama konstipasi. Padahal ada banyak pemicu sembelit, mulai dari gaya hidup, obat-obatan, sampai komplikasi penyakit. Berikut beberapa di antaranya :

Kurang cairan

Kurang mengonsumsi cairan bisa menyebabkan tinja menjadi keras sehingga sulit dikeluarkan. Minum sedikitnya 8 gelas cairan sehari.

Cokelat

Ada beberapa studi yang mengaitkan antara cokelat dengan terjadinya sembelit meski pada beberapa orang konsumsi cokelat justru membantu melancarkan BAB. Bila Anda termasuk penggemar cokelat, Anda bisa mulai menguranginya.

Kehamilan dan persalinan

Konstipasi termasuk masalah yang sering dikeluhkan ibu hamil. Biasanya kondisi ini masih akan terus berlanjut pasca persalinan. Gangguan BAB ini terjadi karena melemahnya otot-otot perut atau efek samping dari obat pereda nyeri.

Terlalu banyak daging

Pola makan yang rendah serat dan tinggi lemak seperti daging, telur atau keju bisa membuat proses pencernaan menjadi lebih lambat. Karena itu penuhi pula kebutuhan tubuh akan serat dengan mengonsumsi cukup sayuran dan buah.

Vitamin

Vitamin secara umum tidak akan menyebabkan konstipasi, tetapi beberapa jenis komponen seperti kalsium dan zat besi bisa jadi pemicu.

Pereda nyeri dan antidepresan

Penelitian menunjukkan, orang yang sering mengalami sembelit kebanyakan adalah pengguna obat pereda nyeri dalam jangka panjang. Konstipasi juga terkait dengan antidepresan golongan serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

Hipotiroid

Hipotiroid atau tidak aktifnya kelenjar tiroid akan memperlambat proses metabolik tubuh dan usus. Tidak semua penderita hipotiroid akan mengalami konstipasi namun biasanya dokter akan meminta pasien konstipasi kronik untuk mengecek kadar tiroidnya.

Diabetes

Diabetes yang tidak dikendalikan bisa menyebab kerusakan saraf yang berpengaruh pada kemampuan tubuh mencerna makanan.

Kurang olahraga

Gaya hidup kurang bergerak juga bisa memicu konstipasi. Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

TIDUR LARUT BISA MEMICU KEMATIAN MENDADAK.

Kesibukan kerap membuat banyak orang menjadi lupa diri, termasuk urusan beristirahat. Bukan hal aneh bila masyarakat di era modern ini, khususnya di perkotaan, selalu tidur larut malam dan harus bangun pagi buta.

Tak banyak yang menyadari apabila kebiasaan tersebut dapat menimbulkan efek yang sangat buruk bagi kesehatan. Tidur yang terlalu larut yang menyebabkan waktu berisitirahat menjadi minim nyatanya berpotensi menjadi ancaman baru yang mematikan.

Sebuah kajian riset terbaru menunjukkan, kurangnya waktu berisitirahat pada malam hari dapat memicu risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian para ahli dari Warwick Medical School yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menyatakan, tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat meningkatkan risiko kematian akibat strok hingga 15 persen dan risiko kematian akibat serangan jantung melonjak hingga 50 persen.

Francesco Cappuccio, seorang profesor bidang epidemiologi dan pengobatan kardiovaskuler, beserta rekannya Dr Michelle Miller, pakar ilmu kedokteran, membuat kesimpulan tersebut setelah memantau sekitar 470.000 orang di delapan negara selama kurun waktu 7 sampai 25 tahun.

"Ada tuntutan saat ini di masyarakat bahwa hidup kita harus lebih bugar. Demi memperjuangkan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan membuat kita terlalu banyak mempertaruhkan waktu tidur yang berharga untuk memastikan semua tugas telah dilakukan. Tetapi dengan melakukan hal itu, kita justru mengalami peningkatan risiko stroke dan mengidap penyakit kardiovaskuler yang berujung pada serangan jantung," papar Cappuccio.

"Jika Anda tidur kurang dari enam jam setiap malam dan tidurnya terganggu, Anda memiliki 48 persen risiko lebih besar mengidap atau mengalami mati muda akibat serangan jantung, dan risiko meninggal akibat stroke meningkat 15 persen.

"Tren tidur larut malam dan dini hari adalah bom waktu untuk kesehatan Anda. Jadi, Anda harus bertindak sekarang untuk menekan risiko mengalami kondisi-kondisi yang mengancam hidup," tambahnya.

Penelitian menyebutkan, waktu optimum untuk beristirahat pada malam hari adalah tujuh sampai delapan jam. Sedangkan tidur lebih dari sembilan jam merupakan pertanda adanya gangguan kesehatan.

Para ahli hingga saat ini belum dapat menjelaskansecara pasti mengapa kurang tidur dapat mengganggu sistem pembuluh darah dan jantung. Tetapi menurut Cappuccio, ada banyak bukti bahwa kurang tidur dapat mengganggu sistem endokrin yang mengatur produksi hormon dalam tubuh.

Selain itu, kurang tidur juga dapat menggangu toleransi glukosa dan menurunkan sensitivitas insulin, sehingga dapat memicu risiko diabetes serta tekanan darah tinggi.

Tahun lalu, Prof Cappuccio juga mempublikasikan sebuah tinjauan dari 16 studi yang melibatkan sekitar 1,3 juta orang. Tinjauan itu menunjukkan bahwa mereka yang tidur kurang dari enam jam setiap malam berisiko 12 persen lebih tinggi meninggal sebelum usia 65 tahun, ketimbang mereka yang tidur selama tujuh hingga delapan jam semalam.

NYAMUK-NAYAMUK PENEBAR PENYAKIT

Meski ukuran tubuhnya kecil dan berat badannya 2-2,5 miligram, hingga kini nyamuk masih menjadi musuh yang belum terkalahkan.

Setiap tahun, nyamuk penular penyakit masih dengan leluasa menyebarkan virus dan parasit, menyebabkan sekitar 1,62 juta orang terserang malaria klinis dan lebih dari 100.000 orang menderita demam berdarah dengue di Indonesia.

Penyakit filariasis atau kaki gajah, chikungunya, dan radang akut susunan saraf atau Japanese Enchepalitis juga belum bisa terberantas tuntas karena serangga yang tergolong famili Culicidae ini masih bisa berkembang biak dengan baik.

Menurut ahli parasitologi Prof Mohammad Sudomo, setidaknya ada 29 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Aedes, Culex, dan Mansonia yang menjadi perantara penularan penyakit di Indonesia.

"Ada 20 spesies nyamuk Anopheles, enam spesies nyamuk Mansonia, dua spesies nyamuk Aedes dan satu spesies nyamuk Culex," kata ayah dari empat anak yang dikukuhkan menjadi Profesor Riset tahun 2008 itu.

Spesies nyamuk Anopheles, termasuk Anopheles balabacensis, Anopheles maculatus, Anopheles barbirostris, dan Anopheles sundaicus, menularkan penyakit malaria dengan memasukkan protozoa dari genus Plasmodium ke dalam darah manusia melalui gigitannya.

Nyamuk Aedes jenis Aedes aegypti memasukkan virus dengue yang menyebabkan demam berdarah dengue. Nyamuk yang dikenal dengan belang hitam putih pada badan dan kakinya ini juga dapat menularkan penyakit chikungunya.

Sementara itu, nyamuk yang tergolong dalam genus Culex dan Mansonia umumnya menularkan filariasis dengan memasukkan cacing filaria ke dalam darah manusia melalui gigitannya.

"Nyamuk Culex quinquefasciatus menularkan filariasis yang disebabkan oleh cacing filaria jenis Wucheraria bancrofti dan nyamuk Mansonia annulifera menularkan filariasis yang disebabkan cacing jenis Brugia malayi," kata Prof Sudomo.

Siklus hidup nyamuk-nyamuk penular penyakit tersebut, menurut dia, secara umum hampir sama.

Masa pradewasa, dari telur, larva hingga pupa terjadi di air dan berlangsung antara 7 dan 14 hari. Hal ini tergantung dari suhu dan kondisi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, proses perubahan pupa atau kepompong menjadi nyamuk, katanya, berlangsung lebih singkat, yakni antara dua dan tiga hari.

"Nyamuk betina yang baru keluar dari pupa akan langsung terbang, berputar-putar di sekitarnya untuk mencari nyamuk jantan dan kawin," katanya.

Setelah perkawinan selesai, dia melanjutkan, nyamuk betina akan beristirahat sebentar untuk kemudian terbang mencari darah yang dibutuhkan untuk mematangkan telur-telurnya nanti.

"Nyamuk yang sudah berhasil mendapatkan darah dengan menggigit hewan atau manusia akan kembali beristirahat di tempat perindukan dan meletakkan telurnya pada tanaman air. Seekor nyamuk betina bisa mengeluarkan 100-200 telur dan menetaskan 75 hingga 150 di antaranya," kata dia.

Dalam hal ini, ada nyamuk yang menggigit pada siang hari dan malam hari. Nyamuk yang menularkan virus dengue biasanya menggigit pada siang hingga petang hari, sedangkan nyamuk yang menularkan penyakit malaria dan kaki gajah biasa menggigit pada malam hari.

Ia menjelaskan pula bahwa hanya nyamuk betina yang menggigit manusia dan hewan untuk mendapatkan darah. "Nyamuk jantan biasanya makan sari tumbuhan saja. Siklus hidupnya pun lebih pendek," katanya.

MENGHALAU NYAMUK
Prof Sudomo mengatakan, pengetahuan mengenai siklus hidup dan perilaku nyamuk penular penyakit bisa menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan program pengendalian vektor (agen perantara penularan penyakit).

"Setiap jenis nyamuk punya tempat perindukan spesifik. Kalau kita mengenali tempat itu dan menghilangkannya, tentu nyamuk tidak akan bisa tumbuh dan berkembang biak," katanya.

Ia mencontohkan, nyamuk Aedes suka hidup dan berkembang biak pada genangan air jernih yang tidak langsung bersentuhan dengan tanah, nyamuk Anopheles sundaicus perlu habitat air payau, Anopheles aconitus perlu habitat persawahan dengan air jernih yang selalu mengalir.

Selain itu, kata dia, pengendalian vektor bisa dilakukan dengan menempatkan pemangsa nyamuk di lokasi-lokasi yang menjadi habitat nyamuk. "Dan pilihan terakhir menggunakan insektisida," katanya.

Menurut Sabar Paulus dari Sub Direktorat Pengendalian Vektor Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, pemerintah sudah memasukkan teknik pengendalian tersebut ke dalam program pengendalian vektor terpadu.

"Penggunaan insektisida dibatasi hanya di daerah endemis tinggi atau bila ada kejadian luar biasa. Di luar itu, pengendalian vektor difokuskan pada upaya pengelolaan lingkungan dan penggunaan kontrol biotik," katanya.

Upaya pengelolaan lingkungan yang dia maksud termasuk pembasmian tempat perindukan nyamuk.

Laguna, rawa, persawahan, dan selokan, dia menjelaskan, harus dibersihkan dari vegetasi yang bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Tempat-tempat penampungan air yang ada di rumah pun, katanya, harus selalu dikuras dan dibersihkan supaya tidak menjadi tempat yang nyaman bagi nyamuk untuk berkembang biak.

Ia menambahkan, gerakan 3M plus yang menyeru masyarakat untuk menguras dan membersihkan tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air, dan menaburkan abate pada air yang tertampung sangat efektif untuk memberantas sarang nyamuk.

"Ikan pemangsa nyamuk, seperti ikan timah, bisa dilepaskan di tempat-tempat yang diduga menjadi sarang nyamuk," ujarnya.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu dan menggunakan obat nyamuk oles atau bakar.

Program dan kebijakan pengendalian vektor yang telah dilakukan pemerintah, menurut Prof Sudomo, sudah tepat. Namun, hal itu belum terlaksana dengan baik di lapangan.

Sabar pun mengakui bahwa selama ini pemantauan dan evaluasi kegiatan pengendalian vektor masih lemah.

Hal itu membuat kegiatan pengendalian vektor belum bisa memberikan dampak nyata terhadap upaya pengendalian penyakit tular vektor.

Nyamuk-nyamuk penular penyakit masih leluasa menebarkan penyakit yang merenggut ribuan jiwa setiap tahun.

About this blog

Blog ini adalah kumpulan informasi ringan yang berhubungan dengan kesehatan, sejarah dan berita-berita terkini.