Wednesday, June 16, 2010

MENGENAL SIMBOL PADA KEMASAN PLASTIK.

Wadah plastik hampir selalu menjadi teman setia untuk keperluan rumah tangga. Tetapi, tahukah Anda bahwa tidak semua wadah plastik aman untuk digunakan? Aman-tidaknya wadah plastik bisa Anda ketahui dari simbol atau pertanda khusus yang tertera di wadah plastik tersebut. Kenali maknanya :

Simbol Food Grade.

Bergambar gelas dan garpu yang artinya wadah tersebut aman digunakan untuk makanan dan minuman.

Simbol Non-Food Grade.

Gambar garpu dan gelas dicoret. Artinya, wadah tersebut tidak didesain untuk wadah makanan karena kandungan zat kimia di dalamnya bisa membahayakan kesehatan.

Simbol Microwave Save.

Gambar garis bergelombang. Wadah aman untuk digunakan sebagai penghangat makanan di dalam microwave karena tahan suhu yang tinggi.

Simbol Non-Microwave.

Gambar garis bergelombang dicoret. Wadah tidak boleh digunakan untuk menghangatkan makanan di dalam microwave karena tidak tahan suhu yang tinggi atau panas.

Simbol Oven Save.

Gambar oven (dua garis horizontal) yang artinya aman digunakan sebagai penghangat makanan di dalam oven. Meski terbuat dari plastik, wadah ini tahan suhu tinggi.

Simbol Non-Oven.

Gambar dua garis horizontal dicoret. Artinya, wadah tidak tahan suhu tinggi.

Simbol Grill Save.

Gambar pemanggang atau grill (tiga segitiga terbalik), menandakan wadah aman digunakan untuk suhu tinggi.

Simbol Non-Grill Save.

Gambar pemanggang dicoret, artinya wadah tidak boleh digunakan untuk memanggang.

Simbol Freezer Save.

Gambar bunga salju yang menunjukkan wadah aman digunakan untuk menyimpan makanan atau minuman dengan suhu rendah atau beku.

Simbol Non-Freezer Save.

Gambar bunga salju dicoret, maka wadah tidak boleh untuk disimpan dalam lemari pendingin.

Simbol Cut Save.

Gambar pisau, yang berarti wadah aman digunakan sebagai alas saat Anda memotong bahan-bahan makanan.

Simbol Non-Cut Save.

Gambar pisau dicoret, artinya tidak untuk wadah memotong.

Simbol Dishwasher Save.

Gambar gelas terbalik. Wadah aman untuk dicuci dalam mesin pencuci.

Simbol Non-Dishwasher Save.

Gambar gelas dicoret, artinya gelas harus dicuci manual.

ANAK LAHIR SECARA ”CAESAR” – IMUNITASNYA LEBIH RENDAH?

Bayi yang lahir secara caesar memang berbeda dengan bayi yang dilahirkan secara normal. Bayi lahir caesar umumnya kekebalan atau imunitas tubuhnya lebih rendah dibandingkan dengan bayi lahir normal. Untuk meningkatkan imunitasnya, mereka harus diberi air susu ibu yang mengandung probiotik.

Penelitian menunjukkan, bayi lahir caesar butuh waktu enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal sehingga bayi caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit. Demikian dipaparkan Prof Patricia Conway dari Universitas New South Wales, Australia, di Jakarta.

Saluran pencernaan penting artinya bagi kesehatan tubuh manusia. Fungsi utamanya adalah mencerna dan menyerap zat gizi agar kebutuhan tubuh dapat terpenuhi. Pada saluran cerna yang sehat, mukosa usus mampu menyerap mikronutrien penting dan menolak toksin serta patogen. Dua per tiga sistem kekebalan tubuh berada di saluran pencernaan ini.

Saluran cerna yang sehat banyak didominasi oleh koloni bakteri baik—lazim disebut probiotik. Agar berfungsi optimal, probiotik harus dikonsumsi dalam keadaan hidup dan tetap hidup mencapai saluran usus dalam jumlah yang mencukupi.

Dunia terkontaminasi

Saat lahir, bayi meninggalkan kandungan ibu atau lingkungan yang nyaris bebas kuman dan memasuki dunia luar yang serba terkontaminasi sehingga butuh daya tahan cukup untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi mikroorganisme.

”Jadi terkait dengan hal itu, metode persalinan menentukan jenis mikrobiota yang nantinya akan menghuni usus anak, dan selanjutnya akan berdampak pada daya tahan tubuhnya,” kata Patricia Conway.

Metode persalinan umum adalah persalinan normal (melalui jalan lahir ibu) dan bedah caesar. Beberapa tahun terakhir, jumlah ibu yang memilih melahirkan caesar meningkat. Di Amerika Serikat, angka kelahiran caesar meningkat lebih dari 40 persen, di Eropa 30 persen, di Amerika Latin dan sebagian negara Asia mencapai 50 persen sejak 1996.

”Padahal angka kesakitan bedah caesar lebih tinggi dibanding melahirkan normal, yakni 27 dari 1.000 persalinan, sedangkan melahirkan normal hanya 9 dari 1.000 persalinan,” ujar ginekolog dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andon Hestiantoro.

Saat baru lahir, saluran cerna bayi lahir normal nyaris steril, bebas kuman. Pada proses persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Pada persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama yang melibatkan kontraksi berjam-jam.

Sebagai imbasnya, bayi kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu dan kemudian mikrobiota itu berkoloni di ususnya. Mikrobiota yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan adalah kelompok Bifidobacteria dan Lactobacilli.

Sebaliknya, pada bayi caesar, proses persalinan dilakukan di ruang steril. Bayi diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu, jadi tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir. Selain itu, untuk menghindari pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui placenta. Akibatnya, kolonisasi bakteri yang menguntungkan di saluran cerna terhambat. Akibatnya, proses penguatan pada saluran cerna dan imunitas bayi pun terhambat.

”Jadi, agar tidak terkena infeksi dan penyakit alergi, bayi caesar harus mendapatkan ASI yang mengandung probiotik untuk meningkatkan imunitasnya,” tutur Patricia Conway.

KAITAN ANTARA TIDUR DAN KECERDASAN ANAK.

Ibarat sebuah ponsel, sumber tenaga manusia perlu di-charge kembali. Tidur memungkinkan tubuh beristirahat. Tidur pun merupakan bagian dari aktivitas alami pemulihan stamina. Tidur juga diyakini membawa pengaruh pada perkembangan kesehatan jiwa individu yang bersangkutan. Bahkan, kualitas tidur memiliki peran krusial pada kondisi perkembangan kesehatan jiwa anak, di samping dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Tidur memang tak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan anak. Maksudnya, tidur cukup saja tidak otomatis membuat anak pintar. Yang benar, tidur cukup membuat fisik dan mental anak menjadi lebih kondusif. Nah, kondisi inilah yang berpengaruh terhadap kecerdasan anak.

Ketika energi berkurang dan tubuh mulai letih, si kecil yang seolah tidak pernah capek bermain sering kali menjadi rewel, bukan? Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Dijamin, apabila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain sambil berkonsentrasi saat bereksplorasi. Jadi, bisa disimpulkan, tidur sangat mendukung perkembangan kecerdasan anak.

Sama halnya dengan anak yang bersekolah dari pagi hingga siang hari. Sepulang sekolah, dalam keadaan letih, dia pasti akan sulit berkonsentrasi ketika diminta mengulang pelajaran. Apabila dipaksakan, mungkin hasilnya nihil. Lebih baik berikan kesempatan kepada anak untuk beristirahat agar energinya kembali.

Berdasarkan penelitian, selama tidur semua sel tubuh, termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum, dan sel otak, mengalami pemulihan. Bermodalkan tubuh yang bugar inilah anak diasumsikan akan lebih semangat melakukan sesuatu. Apalagi didukung oleh otak yang berfungsi dengan baik. Selain itu, hormon-hormon pun lebih aktif diproduksi selagi tidur. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak dan melancarkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Dengan demikian, sel-sel saraf semakin berkemungkinan memiliki pengetahuan yang permanen sifatnya.

Penelitian yang dilansir di London pada 1998 mengungkapkan bahwa bayi yang banyak tidur, perkembangan otaknya akan optimal. Pasalnya, aktivitas tidur merupakan salah satu stimulus bagi proses tumbuh kembang otak. Hal ini bisa dimengerti karena 75 persen hormon pertumbuhan diproduksi saat anak tidur. Hormon pertumbuhan inilah yang bertugas merangsang pertumbuhan tulang dan jaringan. Selain itu, hormon pertumbuhan juga memungkinkan tubuh memperbaiki dan memperbarui seluruh sel dalam tubuh, dari sel kulit, sel darah, sampai sel saraf otak. Nah, proses pembaruan sel ini akan berlangsung lebih cepat kalau si bayi sering terlelap.

Para peneliti di University of London, seperti dilansir BBC News baru-baru ini, mempelajari 600 bayi dengan rentang usia 1-12 minggu untuk melihat faktor yang menyebabkan mereka bisa atau tidak bisa tidur sepanjang malam. Ditemukan, bayi yang disusui lebih dari 11 kali dalam waktu 24 jam selama seminggu pertama akan mengurangi waktu tidurnya hingga 12 minggu. Artinya, sampai berusia 12 minggu, si bayi tidak menikmati tidurnya yang nyenyak sepanjang malam. Seandainya aktivitas menyusu digeser sebelum tengah malam, bayi tentu akan tidur lebih nyenyak.

Tim peneliti di bawah pimpinan Dr Ian St James-Roberts juga menemukan bahwa saat disusui, bayi akan belajar melakukan pembedaan antara siang dan malam. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Archives of Diseases in Childhood ini mengungkap, pemberian susu secara sering pada minggu pertama usia bayi merupakan faktor signifikan yang menentukan pola tidur selanjutnya. Itulah mengapa para peneliti berharap studi yang disebut behavioural programme ini bisa menjadi rujukan bagi kalangan medis untuk mengatasi masalah tidur bayi.

Secara garis besar, bayi jadi lebih cerdas apabila kebutuhan tidurnya tercukupi. Jadi, jangan usik pulasnya tidur si kecil jika ingin anak tumbuh cerdas.

About this blog

Blog ini adalah kumpulan informasi ringan yang berhubungan dengan kesehatan, sejarah dan berita-berita terkini.