Friday, November 13, 2009

AWET MUDA DENGAN SAYUR DAN BUAH.

Minum jus buah setiap hari? Mengapa tidak? Enak dan segar! Kalau sayur? Ih, langu.... Masyarakat kita memang lebih mementingkan ”rasa” daripada ”manfaat” makan. Padahal kalau tahu manfaat buah dan sayur, mungkin persepsi dan pola makan kita akan berubah.

Selama ini buah dan sayur dikenal sebagai sumber vitamin dan mineral sehingga disarankan untuk selalu ada dalam menu pangan sehari-hari.

Dalam anjuran makan ”empat sehat lima sempurna”, ada buah dan sayur, selain makanan pokok dan lauk-pauk. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya sudah mengetahui pentingnya buah dan sayur, tetapi kenyataannya, menu makan sehari-hari orang Indonesia lebih didominasi oleh karbohidrat dan sangat sedikit buah dan sayur.

Dalam berbagai penelitian yang dilakukan di negara-negara maju akhir-akhir ini, buah dan sayur banyak dikaitkan dengan kemampuannya untuk melindungi tubuh dari berbagai penyakit degeneratif.

Hal ini karena, selain sebagai sumber vitamin dan mineral, buah dan sayur juga merupakan sumber serat pangan serta kaya akan antioksidan, khususnya dari golongan flavonoid.

Flavonoid—menurut Robinson dalam bukunya Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi—adalah suatu senyawa yang kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C (cincin benzena tersubstitusi) yang dihubungkan oleh 3 karbon. Flavonoid ini banyak terdapat dalam tanaman, dan lebih dari 4.000 jenis sudah teridentifikasi. Dalam tanaman itu sendiri, flavonoid mempunyai aneka fungsi, seperti untuk menarik serangga yang membantu penyerbukan, membantu fotosintesis, antimikrobia, dan antivirus.

Beberapa contoh dari flavonoid yang sudah diketahui bermanfaat untuk manusia adalah isoflavon yang terdapat dalam kedelai, katekin yang terdapat dalam teh, dan antosianin yang terdapat dalam buah duwet dan anggur merah.

Absorbsi Flavonoid

Secara in vitro (dalam tabung reaksi), aktivitas antioksidan yang kuat dari berbagai flavonoid sudah terbukti, tetapi secara in vivo (dalam tubuh makhluk hidup) baru sedikit data.

Keberadaan flavonoid dalam makanan sebelumnya dianggap tidak bermanfaat karena kebanyakan flavonoid dalam tanaman, kecuali katekin, terikat dengan gula sebagai glikosida.

Glikosida ini dianggap tidak bisa diserap karena molekulnya besar. Namun, kemudian banyak bukti menunjukkan bahwa flavonoid glikosida mudah diserap oleh manusia dan tikus percobaan tanpa perlu dihidrolisis terlebih dahulu.

Beberapa penelitian yang menunjang pendapat ini antara lain, pada 36 manusia tidak merokok yang sehat terlihat bahwa peningkatan konsumsi buah dan sayur dari 5 porsi/hari menjadi 10 porsi/hari menghasilkan peningkatan kapasitas antioksidan plasma secara nyata. Peningkatan kapasitas antioksidan dalam plasma atau polifenol total pada plasma manusia juga terjadi setelah mengonsumsi red wine dan sari buah anggur.

Fenomena pertama bahwa flavonoid bisa berfungsi sebagai perlindungan terhadap penyakit jantung dikemukakan tahun 1979 dalam suatu penelitian yang menggunakan data dari 17 negara. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan terbalik antara kematian akibat penyakit jantung koroner dan kebiasaan minum anggur.

Fenomena ini dikenal sebagai French Paradox. Orang Perancis yang mempunyai kebiasaan minum anggur merah sesudah makan tidak banyak terserang penyakit jantung koroner dibandingkan dengan orang Amerika Utara pada kondisi kesehatan yang sama (kadar kolesterol serum, konsumsi lemak jenuh, tekanan darah, kesukaan merokok). Saat itu baru dapat dihipotesiskan, konsumsi anggur yang lebih banyak pada orang Perancis-lah yang menjadi penyebab ketahanannya terhadap penyakit jantung. Kemudian diketahui bahwa anggur merah banyak mengandung flavonoid, yang mempunyai efek perlindungan terhadap penyakit jantung koroner.

Selain itu, dari studi selama lima tahun terhadap pria usia lanjut di Belanda, diketahui bahwa konsumsi teh, bawang merah, dan apel dapat menurunkan kematian akibat penyakit jantung. Studi lain di Finlandia dan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang mirip; juga terhadap 552 responden lain di Belanda; terlihat bahwa konsumsi teh hitam mengakibatkan penurunan risiko stroke, sedangkan konsumsi vitamin C dan vitamin E saja tidak mengakibatkan penurunan risiko stroke.

Flavonoid juga dapat mengurangi risiko kematian hewan percobaan akibat diabetes. Pada tikus yang diberi flavonoid lemon terlihat ada penurunan ”nilai TBARS” (satuan untuk oksidasi lipid) pada hati, ginjal, dan serum darah dibandingkan dengan tikus diabetes yang tidak diberi flavonoid. Flavonoid lemon dalam hal ini memengaruhi penekanan oksidasi lipid pada hati, ginjal, dan serum.

Institut Kanker Nasional Amerika Serikat bahkan sudah menganjurkan untuk mengonsumsi setidaknya lima porsi buah dan sayur/hari. Satu porsi adalah satu kali saji, misalnya, untuk apel dan jeruk satu buah ukuran medium (154 gram), sedangkan untuk anggur setengah cangkir (138 gram).

Nah, ... mari kita ramai-ramai mengonsumsi jus buah dan sayur, dan mengganti snack dan camilan dengan buah dan sayur. Niscaya kita akan hidup lebih sehat dan terbebas dari risiko berbagai penyakit degeneratif. Semoga!

BAHAYA LALAP MENTAH.

Ditinjau dari gizinya, lalapan mentah memang mengandung unsur gizi lebih banyak dibanding lalapan matang. Namun, dari segi keamanannya, lalapan mentah beresiko terkontaminasi pestisida atau bakteri berbahaya.

Menurut Prof.Dr.Ir. Made Astawan, ahli teknologi pangan dan gizi dari IPB dalam bukunya Kandungan Gizi Aneka Bahan Makanan, residu pestisida seringkali masih tertinggal pada sayuran sampai beberapa hari setelah penyemprotan, terutama pada masa kemarau karena itu seharusnya petani tidak memanen sayuran sehabis disemprot pestisida.

Proses pencucian sayur yang tidak sempurna juga perlu diwaspadai. Pasalnya beberapa zat kimia dalam pestisida ada yang tidak bisa hilang meski dicuci. Oleh karena itu, cuci sayur dan buah dalam air mengalir. Khusus untuk lalapan mentah, untuk lebih amannya cuci lalapan dengan air matang agar terhindar dari bakteri penyebab infeksi.

Selain pestisida, waspadai pula kontaminasi bakteri berbahaya, terutama sayuran yang menjalar di permukaan tanah atau ketinggiaannya dekat dengan tanah. Untuk meningkatkan kesuburan tanah, para petani seringkali menggunakan pupuk organik berupa humus atau kotoran ternak (bahkan kotoran manusia).

Contoh bakteri patogen yang berasal dari tinja adalah Eschericia coli yang dapat menimbulkan diare, Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi penyebab demam tifus. Salmonella juga dapat menyebabkan gangguan perut, dengan gejala diare, sakit kepala, muntah-muntah, dan demam.

Beberapa jenis bahan pangan mengandung senyawa beracun alami, misalnya saponin pada kedelai, kacang tanah, bayam, dan asparagus, goitrogen (kol dan lobak), asam sianida (daun singkong), solanin (kentang), dan lain-lain. Senyawa beracun tersebut hanya dapat dihilangkan melalui proses pencucian dan pemasakan dengan suhu yang tepat.

Meski sejauh ini belum dilaporkan adanya kasus orang yang keracunan atau meninggal gara-gara mengonsumsi lalapan mentah, tapi tak ada salahnya kita lebih memerhatikan keamanan pangan yang dikonsumsi. Bila Anda termasuk pecinta lalapan, mungkin Anda bisa mulai menanam tanaman yang biasa dipakai untuk lalapan di halaman rumah atau dalam pot. Dengan demikian, kita tahu persis sayuran tersebut bebas dari pestisida dan kontaminasi bakteri atau tinja manusia.

ASUPAN SEHAT, PEREDA ASAM URAT.

Penyakit asam urat (gout) adalah penyakit yang menyerang sendi dan tendon yang disebabkan timbunan kristal urat. Timbunan kristal urat tersebut disebabkan karena deposit asam urat yang lama-kelamaan membentuk kristal pada sendi atau tendon yang terkena sehingga mengakibatkan peradangan.

Asam urat memiliki tanda-tanda mirip arthritis, yakni nyeri sendi, terutama di jempol kaki yang kemudian merambat di persendian kaki. Umumnya orang yang berusia 35 tahun ke atas rawan terkena penyakit ini.

Kendati bisa dikendalikan dengan obat, sebenarnya penderita asam urat wajib melakukan diet ketat terhadap makanan pencetus purin. Dalam buku Terapi Herba, Buah, Sayuran 10 Penyakit Utama, terbitan Flona Serial, disebutkan beberapa makanan yang disarankan untuk penderita asam urat.

o Jus sirsak
Buah sirsak kaya mineral dan vitamin larut air yang berkhasiat untuk mengobati asam urat serta memperlambat proses penuaan. Selain kandungan serat dan anti-oksidan, sirsak juga memiliki senyawa aktif alkaloid isquinolin yang berfungsi sebagai analgetik kuat.
Sifat anti-oksidan dapat mengurangi terbentuknya asam urat melalui penghambatan produksi enzim xantin oksidase. Sedangkan kombinasi sifat analgetik (mengurangi rasa sakit) dan anti-inflamasi (anti-radang) mampu mengobati asam urat.

o Pisang
Zat berkhasiat yang terkandung dalam pisang, antara lain ion potasium dan B6 yang bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit persendian dan nyeri otot.

o Air putih
Penderita asam urat sangat dianjurkan mengonsumsi banyak cairan seperti air putih atau jus buah karena dapat membantu pengeluaran asam urat melalui urine. Disarankan untuk mengonsumsi air putih mencapai 10 gelas sehari (2,5 liter).

o Buah berair
Buah yang mengandung air juga sangat penting, seperti semangka, melon, belewah, belimbing, dan jambu air. Buah yang di dalam saluran cerna diubah menjadi alkohol sebaiknya dibatasi, misalnya durian dan nanas.

About this blog

Blog ini adalah kumpulan informasi ringan yang berhubungan dengan kesehatan, sejarah dan berita-berita terkini.